Dream - Datanglah hari itu. Saat
mimpi Alex Ridwan menjadi nyata. Menyaksikan si bungsu berulang tahun.
Dilayani bak pangeran. Rabu 6 Mei lalu, gerai restoran cepat saji
menjadi saksi cinta sang ayah kepada sang putra itu.
Di panggung
mungil itu, anak bungsu Alex, Rangga, bertahta. Merayakan ulang tahun
ke lima. Bergelimang kado dan persembahan. Membagi bahagia bersama
puluhan teman. Suka cita benar-benar meruap dari ruang seluas lapangan
badminton itu.
“Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa mewujudkan impian Rangga,” tutur Alex dengan mata berkaca-kaca pada Rabu 6 Mei silam.
Pesta
di kedai Kentucky Fried Chicken (KFC), Gaplek, Tangerang Selatan, itu
sungguh istimewa. Perayaan yang tak pernah terbersit di benak. Sudah
lima tahun usia si bungsu, baru kali ini dirayakan dengan sebuah pesta.
Menggelar
ulang tahun seperti itu menjadi muskil bagi Alex. Dompetnya sebagai
sopir taksi tak seberapa. Sang istri, Ipah, juga hanya buruh cuci.
Jangankan menjamu puluhan tamu. Untuk makan sekeluarga di resto semacam
itu, susahlah dianggarkan.
“Terimakasih untuk semua ini. Jika
tidak ada bantuan dari banyak orang, saya dan bapak tidak bisa buat
pesta seperti ini. Kami cuma orang kecil,” kata Ipah sambil berurai air
mata.
Ipah memang pantas menabur ucapan terimakasih. Sebab,
perayaan ulang tahun Rangga dihelat atas prakarsa banyak orang. Dari
KFC, perusahaan tempat Alex bekerja, dan yang tak kalah penting adalah
sokongan ribuan orang lewat media sosial.
Pesta ulang tahun
Rangga memang bisa disebut sebagai buah dari kekuatan media sosial.
Adalah Ankatama, seorang penguna media sosial, yang pertama kali
menemukan kisah ini. Pada sebuah pagi, penyiar GenFM ini menumpang taksi
Blue Bird yang dikemudikan Alex. Melaju dari Bintaro menuju ke kawasan
Senopati, Jakarta Selatan.
Selama perjalanan, mata Ankatama terharu pada sebuah foto anak kecil di atas dashboard
taksi. Dia penasaran. Lalu bertanya kepada Alex, “Itu foto siapa?”
Kisah di balik foto itu pun mengalir. Kepada Ankatama, Alex mengaku
sengaja memajang foto putra bungsunya, demi memompa semangat mencari
rejeki.
Kepada sang penumpang itu pula, Alex menyampaikan
sangat ingin mengajak anaknya yang tengah sakit typus itu untuk makan di
KFC. Membelikan tas sekolah. Semua rencana itu hanya untuk
membahagiakan sang putra di hari ulang tahun itu.
Kisah sang
sopir itu menggetarkan hati Ankatama. Ia trenyuh. Tangisnya pecah.
Airmata mengucur dari sudut kedua mata. Ankatama buru-buru menyeka
dengan tisu. Malu ketahuan sopir itu.
Ankatama lantas merogoh ponsel di dalam tas. Diam-diam, dia mengambil gambar Alex dan foto yang terpajang di dekat panel speedometer mobil. Foto itu kemudian diunggah ke akun Path. Diberi sedikit keterangan.
Dalam
hitungan menit efeknya sungguh luar biasa. Di luar dugaan. Bak wabah.
Foto yang diunggah Ankatama itu menyebar ke sekujur media sosial. Tak
hanya Path. Foto itu juga terpajang di Facebook, juga media sosial lain.
Dan
seperti dihela tangan yang tak kelihatan. Jagat media sosial bergerak.
Memberi dukungan. Hingga akhirnya menghampiri hati sejumlah kalangan,
yang terketuk mewujudkan mimpi Alex. Merayakan ulang tahun si bungsu.
Mimpi yang bagi sebagian kalangan mungkin teramat sederhana. Namun
muskil bagi Alex dan keluarga.
***
Pada jaman kejayaan
digital ini, informasi apapun memang bisa melesat bak meteor ke seluruh
bumi. Saluran jagat maya, membuat peristiwa sekecil apapun di sebuah
sudut bumi, bisa dengan cepat diketahui pada belahan lain. Apalagi bila
informasi itu bergulir secara massif lewat media sosial.
Kecepatan
laju informasi itu seiring dengan membludaknya jumlah penguna internet.
Di Indonesia, misalnya, jumlah penduduk yang memakai internet melejit
cepat. Lihat data Kementerian Komunikasi dan Informatika berikut ini.
Pada
2013 pengguna internet Indonesia mencapai mencapai 63 juta orang.
Sekitar 95 persen di memakai internet untuk mengakses jejaring sosial.
Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook. Terbesar setelah
Amerika Serikat, Brasil, dan India. Indonesia juga menjadi negara
terbesar ke lima sebagai pengguna jejaring Twitter.
Pada dua
tahun lalu itu pula, pengguna Path di Indonesia mencapai 700.000 orang.
Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta, dan Linkedlin 1 juta.
Jumlah penguna yang mengunung itulah yang menyebabkan informasi apapun
akan tersebar dengan cepat. Jarak dan waktu sudah hilang.
Kekuatan
media sosial itulah yang meciptakan kisah Alex dan Rangga menjadi
terlihat ajaib. Tak butuh waktu lama. Setelah kisah itu diunggah ke
media sosial, Alex langsung diundang salah satu stasiun televisi. Dia
diwawancara untuk menuturkan kisah haru itu. Telepon Alex tak berhenti
berdering. Media massa ramai-ramai menelepon. Mengali kisah yang
menggugah itu.
Berbagai informasi itu juga mendarat di KFC.
Manajemen waralaba itu tergugah. Mereka lalu memberi tempat untuk
perayaan ulang tahun Rangga.
Ditambah 50 voucher makan gratis untuk
para undangan. Sementara, bos perusahaan taksi tempat Alex bekerja juga
menaruh simpati. Pada subuh yang masih gelap, seorang petinggi
perusahaan itu mengunjungi pul taksi untuk menyerahkan hadiah untuk
Rangga.
***
Rasa kemanusiaan memang terasa muda dihela
lewat media sosial. Selain kisah Rangga itu, sudah banyak kisah
mengharukan yang menyebar lewat jejaring ini. Dari kisah pedagang di
emperen hingga orang-orang susah yang memerlukan bantuan. Banyak hati
tergerak menolong.
Berbulan lalu, misalnya, media sosial telah
“mengangkat” hidup Turinih. Penjual getuk yang biasa berdagang di
kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bak rollercoaster. Nasib gadis Indramayu itu melambung ke awang-awang, setelah ramai dibicarakan di media sosial.
Kisah
dara yang karib disapa Ninih itu, juga membetot perhatian pengguna
media sosial. Penjual getuk cantik itu ramai dibicarakan jejaring gaul.
Dan sesudah itu, Ninih kebanjiran undangan wawancara. Gadis emperan itu
pun semakin berkibar.
Dan kini lihatlah. Dia boleh saja mengubur
mimpi untuk menjadi dokter. Perempuan lulusan sekolah dasar ini telah
menjadi artis. Sebuah lagu berjudul “Selingkuh 3 Kali” telah
diluncurkan di bawah manajemen E-Komando milik komedian Eko Patrio. Dari
tukang getuk, Ninih menggebrak blantika musik Indonesia.
Atau
simaklah kisah pilu Mbah To. Pemulung Yogyakarta. Kakek berusia 78 tahun
itu hidup sebatang kara. Dia jauh-jauh merantau dari kampung halaman di
Madiun, Jawa Timur, untuk mengadu nasib di Kota Gudeg itu.
Tapi
kenyataan tak semanis mimpinya. Di Yogyakarta, nasib kakek bernama asli
Wagiso itu tak lebih baik. Dia terlunta-lunta di jalanan. Tidur beralas
tanah. Beratap langit. Berpindah dari satu emper toko ke emper lain.
Dan
lagi-lagi media sosial menjadi “penyelamat”. Keberadaan Mbah To direkam
oleh wartawan Brilio.net. Bak topan. Kisah pilu Mbah To segera menyapu
topik pembicaraan di media sosial. Dan sama seperti kisah-kisah lainnya,
simpati susul menyusul datang, lalu mengalir deras.
Sejumlah
informasi itulah yang menggerakan Paguyuban Madiun. Mereka beriniatif
memulangkan Mbah To dari kota itu. Tak hanya mempertemukan dengan
keluarga, paguyuban itu juga memberikan gerobak sederhana untuk modal
usaha.
Kisah Alex, Ninih, dan Mbah To, memberi harapan, budaya
tolong menolong, yang diwariskan kakek nenek kita, belum tenggelam di
riuh kemajuan. Jejaring sosial justru bisa merawat. Menemukan
kisah-kisah itu, membagi dan sukses mengetuk banyak hati.